Kunjungan The Economist Ke Hulu Berau

The Economist yang merupakan majalah berita dan peristiwa internasional berbahasa Inggris sedang menyusun artikel terkait dengan kesiapan negara-negara berkembang dalam menjawab tantangan global dalam menghadapi perubahan iklim dunia. Tulisan ini berfokus pada upaya yang dilakukan oleh negara berkembang terutama yang masih memiliki potensi dalam menghadapi isu tersebut. Indonesia tentu menjadi salah satu negara yang dikunjungi untuk mendapatkan data dan informasi pendukung dalam tulisan tersebut karena Indonesia saat ini telah berkomitmen menurunkan 26% emisinya pada tahun 2020 dengan pendanaan mandiri dan akan meningkat hingga 41% bila ada bantuan pendaan lain. Sebagai salah satu kabupaten yang telah ditunjuk sebagai lokasi Demonstration Activities (DA), maka kunjungan juga dilakukan ke Kabupaten Berau.

Kunjungan ini dilakukan pada 18-21 Juni 2010 dengan diawali perjalanan udara dengan helikopter dari Balikpapan – Berau untuk mendapatkan gambaran kondisi tutupan hutan dari ketinggian. James Astill, wartawan senior The Economist ini didampingi oleh tim The Nature Conservancy dalam perjalanan udara tersebut. Kepadanya dijelaskan pula kondisi tutupan hutan, kondisi pengunungan karst yang ada diperbatasan kabupaten, alur daerah aliran sungai. Dari sini diperoleh kondisi yang cukup berbeda antara kondisi tutupan hutan di Kabupaten Berau dengan kondisi yang ada kabupaten tetangganya. 

Setibanya di Tanjung Redeb, The Economist juga berdiskusi dengan Sekretariat POKJA REDD Berau yang sekaligus memberikan penjelasan terkait dengan keberadaan Kelompok Kerja REDD Berau, program Karbon Hutan Berau yang dikembangkan, komitmen Pemerintah Kabupaten serta tantangan yang dihadapi. Selain itu juga merencanakan kunjungan lapangan pada hari berikutnya.

Dalam dua hari, The Economist melakukan perjalanan panjang dari dua lokasi yang berbeda yang kawasan lindung Sungai Lesan di Kecamatan Kelay serta kawasan hulu sungai Segah di Kecamatan Segah. Dua sungai utama yang berada di Kabupaten Berau ini memang memiliki keunikan tersendiri, dimana sepanjang hulu hingga hilirnya berada di satu wilayah administratif sehingga pengelolaannya dapat dilakukan dengan maksimal. Termasuk keragaman sumber daya alam hayati serta kondisi masyarakat asli yang telah ada di dua sungai ini sejak lama.

Di kawasan lindung Sungai Lesan, The Economist berdiskusi dengan masyarakat Muara Lesan yang ditemui di camp perkebunan kelapa sawit. The Economist mendalami kehidupan masyarakat mulai dari sisi ekomoni, pendapat tentang hutan dan perkebunan, manfaat yang didapat masyarakat serta sistem yang dikembangkan dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit. Harapan dan hambatan yang dirasakan oleh masyarakat juga menjadi salah satu pertanyaan diskusi. Setelah kunjungan ke camp perkebunan sawit ini, The Economist kemudian bermalam di stasiun riset milik Badan Pengelola Kawasan Lindung Sungai Lesan di tepi sungai Lejak. Stasiun yang dibangun pada tahun 2004 ini difungsikan sebagai penunjang kegiatan operasional lapangan dari tim monitoring kawasan lindung ini.

Dalam diskusi malam, The Economist banyak mendalami upaya yang dilakukan pada kawasan lindung Sungai Lesan yang juga diusulkan sebagai salah satu DA di Kabupaten Berau yang mewakili kawasan lindung.  Pada pagi harinya, The Economist juga menikmati kondisi hutan yang ada di kawasan lindung ini dengan didampingi Lex Hovani, rutenya menuju menara pandang pada pohon bangeris yang ada di kawasan ini.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke hulu sungai Segah di Kecamatan Segah tepatnya Kampung Long Laai yang juga merupakan areal konsesi PT. Sumalindo Lestari Jaya IV. Di Kampung ini, The Economist melakukan diskusi dengan Badan Pengelola Segah (BP Segah) yang merupakan organisasi yang terdiri dari lima kampung yang ada di hulu sungai Segah. BP Segah adalah salah satu upaya pengelolaan kawasan yang sifatnya kolaboratif bersama dengan pelaku usaha dalam hal ini PT Sumalindo Lestari Jaya IV dan Pemerintah Kabupaten Berau. Diskusi dilakukan seputar latar belakang BP Segah, upaya yang dilakukan dalam pengelolaan kolaboratif, keterikatan masyarakat dengan hutan serta harapan dan tantangan yang dihadapi masyarakat.

Melengkapi perjalanannya The Economist juga berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Berau, untuk mengetahui seberapa besar kesiapan pemerintah daerah dalam skema REDD, bagaimana kemitraan yang terbangun antara pemerintah dengan NGO seperti apa jaringan yang terbangun, serta manfaat REDD bagi kesejahteraan masyarakat dan juga bagi kemajuan pemerintah daerah. (*ar).

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale