Lokakarya Strategi Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam REDD

Mendiskusikan strategi pelibatan masyarakat dalam REDD tentunya tidak akan habis dalam satu atau dua sesi diskusi saja. Studi tentang bagaimana pelibatan masyarakat dalam REDD khususnya Program Karbon Hutan Berau telah dilakukan oleh World Education beberapa waktu yang lalu. Studi ini juga diperkaya dengan beberapa kali diskusi baik di tingkat kampung (desa) maupun tingkat kabupaten bersama dengan POKJA REDD Kabupaten Berau. Untuk menjamin keberhasilan, strategi-strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam REDD memerlukan kerjasama rentang pemangku kepentingan. Sebagai acuan, sudah ada standar yang dikembangkan, misalnya standar the Climate, Community  and Biodiversity Alliance (CCBA). Walaupun demikian masih menjadi pertanyaan apakah standar-standar itu dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan dan bagaimanakah standar-standar itu dapat diterapkan dalam kenyataan.

Mengingat banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang menantang yang perlu dijawab dalam usaha-usaha pengembangan REDD, berbagi pengalaman dan saling belajar antara semua pelaksana program akan bermanfaat untuk semua. Oleh karenanya sebagai lanjutan dilakukan pula diskusi pada tingkat nasional pada tanggal 8-9 Juni 2010 bertempat di Hotel Ambhara, Jakarta.  

Dalam diskusi yang buka secara langsung oleh Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dan Staff Ahli Menteri Bidang Kemitraan ini dihadiri pula oleh berbagai pihak baik dari kabupaten, provinsi dan nasional. Perwakilan masyarakat dan unsur lembaga non pemerintah juga hadir. Perwakilan dari POKJA REDD Berau ikut pula dari Bappeda Kabupaten Berau, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Kampung, Bagian Hukum SETDA Berau dan dua perwakilan masyarakat dari Forum Kampung Hulu Kelay dan Badan Pengelola Hulu DAS Segah.

Pada hari pertama kegiatan dipaparkan berbagai inisiatif, pengalaman dan strategi yang dikembangkan di beberapa daerah (proyek) untuk pelibatan masyarakat dalam REDD diantaranya Program Karbon Hutan di Kabupaten Berau, Kalimantan Forest and Climate Partnership di Kalimantan Tengah, Merang REDD Pilot Project di Sumatera Selatan, TN Meru Betiri, Desa Sumber Jaya Lampung dan Kabupaten Kapuas Hulu. Dari berbagai pengalaman dan inisiatif ini muncul beberapa pertanyaan kunci yang didiskusikan dalam kelompok tematik di hari kedua.

Peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok ini membahas beberapa pertanyaan kunci yang berbeda seperti bagaimana menjawab aspek pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan desa dan bagaimana proses persetujuan masyarakat yang bebas dan berdasarkan informasi yang memadai dibahas oleh kelompok satu; pertanyaan tentang bagaimana akses masyarakat terhadap sumber daya hutan dan bagaimana hubungan antara perusahaan dengan masyarakat dibahas oleh kelompok dua. Sedangkan kelompok tiga membahas tentang pengembangan sumber-sumber penghidupan dengan adanya proyek REDD dan bagaimana skema insentif dan aliran keuangan dalam proyek REDD ini kedepannya.Hasil diskusi kelompok kemudian disampaikan dalam diskusi pleno.

Tentunya hasil diskusi ini akan sangat membantu dalam menjawab dan mengidentifikasi tantangan-tantangan serta hambatan-hambatan potensial yang perlu diantisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan prakarsa peningkatan partisipasi masyarakat di dalam implementasi REDD di lapangan. Namun masih dibutuhkan banyak masukan kritis dari semua pemangku kepentingan terutama dari unsur masyarakat sehingga mempertajam strategi yang dikembangkan. (*iw)

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale