Dalam kerjasama Pemerintah RI dengan Pemerintah Federal Jerman dalam Program Kehutanan ForClime – FC Module, salah satu kegiatan yang harus dilakukan adalah Studi Kelayakan terhadap kebupaten yang ditunjuk. Kabupaten Berau merupakan kabupaten ketiga yang ditunjuk oleh Kementerian Kehutanan RI selain Kabupaten Malinau dan Kapuas Hulu. Namun sebagai kabupaten terakhir yang ditunjuk, Berau belum dilakukan Studi Kelayakannya oleh konsultan yang ditunjuk. Untuk itu pada akhir Februari hingga awal Mei 2010, tim dari GFA Consulting melakukan kegiatan studi kelayakan di Kabupaten Berau.
Studi kelayakan ini dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi dan data pendukung, melakukan analisis dan juga kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yang cocok sebagai lokasi Demonstration Activities (DA). Data dan informasi tersebut dikumpulkan dari berbagai pihak seperti kantor dan dinas terkait di Pemerintah Kabupaten Berau, POKJA REDD Berau, perusahaan, masyarakat.
Sebagai salah satu pertanggungjawaban dari pelaksanaan studi kelayakan adalah mempresentasikan dan membahas hasil pelaksanaan studi kelayakan bersama-sama para pihak terkait di Kabupaten Berau. Adapun inti dari studi kelayakan ini adalah keberhasilan mengidentifikasi beberapa Demonstration Activity (DA) yang potensial, sesuai dengan kriteria seleksi sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Kehutanan nomor 30 tahun 2009. Setelah berkoordinasi dengan para pihak kunci di Kabupaten Berau, khususnya POKJA REDD Kabupaten Berau, Dinas, Badan, dan Kantor terkait serta TNC, akhirnya dapat ditemukenali 5 (lima) DA potensial, meskipun alokasi waktu dan sumberdaya pelaksanaan studi kelayakan ini sangat terbatas. Bantuan, koordinasi, fasilitasi, dan kerjasama dari para pihak kunci tersebut di atas merupakan bagian yang sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan studi kelayakan ini.
Melalui lokakarya disampaikan hasil kegiatan studi kelayakan yang telah dilakukan GFA Consulting terhadap para pihak di Kabupaten Berau, agar dapat diapresiasi, dikritisi, dan disempurnakan bersama. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2010 bertempat di ruang pertemuan Kakaban SETDA Kabupaten Berau bertujuan untuk mendapatkan hasil studi kelayakan yang dimiliki bersama para pihak, agar tingkat keberhasilan pelaksanaan DA di kemudian hari dapat diandalkan karena berbasis apresiasi dan pemahaman bersama secara substansi teknis, tata laksana, dan proses tindak lanjutnya. Dan juga memiliki sasaran yang ingin dicapai adalah hasil pembahasan yang mendalam terhadap masukan informasi kualitatif maupun kuantitatif terhadap indikator-indikator di dalam kriteria seleksi sesuai format Permenhut 30/2009 yang telah berhasil disusun oleh tim konsultan di dalam Tabel DA Potensial di Kabupaten Berau. Secara rinci sasaran tersebut mencakup koreksi, masukan, dan tambahan informasi agar setiap DA potensial dapat disandingkan secara kompetitif sehingga DA yang terpilih di Kabupaten Berau dapat mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi dalam pengujian dan pengembangan metodologis, teknologi dan institusi pengelolaan dalam pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan secara berkelanjutan.
Dalam studi kelayakannya, GFA menemukenali 5 lokasi yang cocok untuk dijadikan lokasi DA yaitu kawasan hutan produksi yang dikelola oleh PT Inhutani I Labanan yang dikerjasamakan dengan PT Hutan Sanggam Labanan Lestari dan juga yang dikelola oleh PT Sumalindo Lestari Jaya IV; kawasan perkebunan yang dikelola oleh PT Yudha Wana Abadi, PT Anugerah Agung Prima Abadi; kawasan lindung sungai Lesan di kecamatan Kelay; kawasan hutan mangrove yang ada di pesisir kabupaten Berau. Sesuai dengan tujuan lokakarya ini, maka peserta memberikan banyak masukan terhadap lokasi-lokasi yang diusulkan baik berupa koreksi informasi dan data, masukan serta tambahan lain yang sangat berguna dalam penentuan lokasi DA di kabupaten Berau.
Hasil lokakarya ini tentunya akan mempertajam dan memperkaya studi kekelayakan yang dilakukan. Nantinya dari 5 lokasi tersebut akan dibuat skala prioritas yang kemudian dibahas kembali di tingkat nasional bersama dengan Kementrian Kehutanan di Jakarta untuk dipilih tiga lokasi DA. (*iw)


