Negosiasi Transfer Teknologi di Bonn: Sebuah Potret

Peta negosiasi perubahan iklim adalah suatu hal yang tidak sederhana.  Pada intinya, para pihak yang berkepentingan bertemu secara berkala dalam pertemuan puncak yang disebut sebagai COP ( Conference of Parties ) yang tahun ini rencananya akan diadakan di Cancun, Meksiko.  Di antara pertemuan COP tersebut, diadakan berbagai pertemuan dengan skala lebih kecil untuk menyempurnakan persiapan negosiasi.  Di sinilah, ramai terlihat dinamika kepentingan berbagai pihak untuk memasukkan agenda masing-masing dalam konteks perubahan iklim.

Sebagai ilustrasi, dalam pertemuan di Bonn awal Agustus lalu, salah satu hal yang dibahas adalah tentang transfer teknologi.  Pada pertemuan tersebut, agenda utamanya adalah mempersiapkan teks negosiasi untuk dibahas di Tianjin, Cina, pada bulan Oktober 2010 yang akan datang.  Namun tentu saja, harus juga dipastikan bahwa kepentingan semua negara sudah masuk dalam teks negosiasi tersebut. 

Inilah titik masalahnya.  Ada beberapa isu yang masih belum terselesaikan, seperti tentang Technology Executive Committee (TEC) yang digagas untuk langsung berada di bawah COP dan melaporan kegiatannya kepada COP; – serta Climate Technology Center (CTC) yang  direkomendasikan untuk mendapat arahan dari TEC dan melaporkan hasilnya ke TEC.  Ini adalah posisi yang disenangi oleh negara-negara G77 dan Cina, namun kurang disukai oleh negara-negara maju Annex I yang menginginkan TEC dan CTC sebagai badan yang sejajar dan melaporkan kegiatannya langsung ke SBSTA.

Belum lagi jika berbicara soal hak kekayaan intelektual, atau Intellectual Property Right (IPR).  Mudah dipahami bahwa G77 dan Cina menghendaki pelunakan rambu-rambu IPR demi kepentingan transfer teknologi.  Di sisi lain, negara-negara Annex I lebih menginginkan perlindungan IPR, karena IPR merupakan pendukung untuk adanya inovasi teknologi.

Bagaimana dengan Indonesia?  Tentang TEC, posisi Indonesia adalah tetap lebih menyukai  jika TEC melapor langsung ke COP, -dan CTC melapor ke TEC.  Logikanya sederhana, posisi ini lebih kondusif untuk memungkinkan supaya mekanisme transfer teknologi dapat berjalan baik dengan satu koordinasi demi implementasi yang nyata.  Jika TEC dan CTC direalisasikan sebagai badan yang sejajar di bawah SBSTA, maka akan didapati adanya dua mekanisme transfer teknologi yang berjalan sendiri-sendiri.  Hal ini masih dipersulit dengan kenyataan bahwa SBSTA bukan merupakan badan implementasi seperti SBI, sehingga implementasi nyata transfer teknologi mungkin akan sulit terlaksana.

Soal IPR lebih kompleks lagi.  Di satu sisi, pelunakan IPR diperlukan demi memudahkan replikasi teknologi di negara berkembang untuk inovasi teknologi-teknologi rendah karbon seperti solar cell.  Namun di sisi lain, perlindungan IPR juga diperlukan karena tanpa perlindungan, arus inovasi akan menurun drastis karena mereka yang bergerak di bidang terkait enggan mempublikasi inovasi lanjutan.  Perlu diwujudkan suatu jalan tengah yang memadai dalam hal ini.

Negosiasi transfer teknologi ini menjadi sebuah potret yang sering dijumpai pada negosiasi di isu-isu lain terkait perubahan iklim.  Perubahan Iklim adalah sebuah isu besar yang kompleks.  Beberapa pihak mungkin memandang ini sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa.  Media ini melihat bahwa kompleksitas masalah tersebut justru harus menjadi pendorong bagi kita untuk terus berjuang secara bersama-sama.  Bagaimana dengan Anda?

Source: http://iklimkarbon.com/2010/08/18/negosiasi-transfer-teknologi-di-bonn-sebuah-potret/

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale