Menuju Pengelolaan Hutan Lestari dan Pembangunan Hijau di Berau

Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kehutanan – Kementerian Kehutanan menyelenggarakan pelatihan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) yang ditujukan untuk perusahaan pemegang Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) di Indonesia.  Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari ini diadakan di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau dimulai tanggal 3 hingga 11 Mei 2011.  Program pelatihan ini dikembangkan bersama oleh The Forest Trust, The Nature Conservancy dan Pusdiklat Kehutanan yang dirancang dengan menggabungkan berbagai materi-materi teknis di dalam suatu program praktis yang ditujukan untuk menjadi panduan bagi IUPHHK dalam menerapkan pengelolaan hutan produksi lestari.  Seluruh bahan dan materi pelatihan akan tersedia di Pusdiklat Kehutanan agar dapat dipergunakan oleh seluruh IUPHHK.  Pada pelatihan ini, Dr. Ir. Muhammad Firman, Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan-Kementerian Kehutanan hadir bersama-sama dengan Ir. Helmi Basalamah, Kepala Pusdiklat Kehutanan untuk memberikan dukungan bagi ke-18 IUPHHK yang mengikuti pelatihan tersebut dalam mengembangkan sistim pengelolaan yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi dari pihak ke-tiga yang independen.  

Data dari Dewan Kehutanan Nasional  menunjukkan bahwa hingga akhir 2009, hampir separuh kawasan hutan di Indonesia atau sekitar 56 juta hektar tidak dikelola dengan intensif.  Implementasi pengelolaan hutan produksi lestari masih rendah dimana hanya kurang lebih 54% saja dari 324 unit IUPHHK Hutan Alam (luas 28.271.043 ha) yang melakukan dan menerapkan kaidah-kaidah kelestarian dalam pelaksanaan kegiatan usahanya.

Pelaksanaan pelatihan ini sejalan dengan implementasi Permenhut No. P 38/Menhut-II/2009 tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja PHPL dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) yang belum lama ini dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dari sektor kehutanan.  Standar ini berlaku bagi para Pemegang Ijin atau Hak pada Hutan yang mengharuskan mereka untuk mempunyai kejelasan terkait dengan hak-hak yang ada dalam area dimana mereka beroperasi,  dimana hal tersebut merupakan salah satu persyaratan dalam pengelolaan hutan produksi lestari dan sertifikasi pengelolaan hutan.  Pelatihan ini diharapkan  dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan hutan produksi terutama pada level managerial menengah ke atas pada masing-masing IUPHHK.  Program pelatihan PHPL secara lengkap sekarang dapat diikuti oleh seluruh IUPHHK melalui Pusdiklat Kehutanan.   Dengan demikian program-program pengelolaan hutan lestari yang biasanya dilakukan sendiri-sendiri oleh lembaga swadaya masyarakat sekarang ini dapat dilakukan dalam lingkup yang lebih besar untuk dapat memenuhi permintaan yang terus meningkat atas kayu-kayu yang legal dan bersertifikat.

Sertifikasi PHPL (dengan mandatory standar legalitas kayu) pada masing-masing IUPHHK merupakan bagian yang sangat penting terkait dengan kerangka pasar hasil hutan global, salah satunya pasar Uni Eropa(UE) yang menyaratkan produk kayu yang legal (bersertifikat). Pemerintah Indonesia mengharapkan adanya peningkatan produksi yang efisien dan lestari dengan sertifikasi ini dan dapat bersaing di pasaran global.

“Ada perkembangan yang mengembirakan bahwa makin banyak pemilik dari IUPHHK – Hutan Alam yang menyadari pentingnya pengelolaan hutan lestari  (sustainable forest management), hal ini menunjukkan terjadinya perubahan mind-set yang signifikan  dari para pemegang IUPHHK- HA bahwa faktor lingkungan, sosial dan produksi  adalah aspek yang harus diperhatikan dalam pemanenan hasil hutan“ kata Ir. Helmi Basalamah, MM, Kepala Pusdiklat Kehutanan  dalam sambutan di acara pembukaan yang juga dihadiri oleh Dr. Ir. Muhammad Firman, M.For.Sc., Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan-Kementerian Kehutanan, Ir. Darwis Syukur, MM, Kepala Dinas Kehutanan Berau, Perwakilan The Nature Conservancy dan Kepala Perwakilan The Forest Trust.

Pelatihan ini dilaksanakan dalam materi kelas dan lapangan di areal konsesi PT Inhutani I Unit Mera’ang. Tercakup di dalamnya adalah materi Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) dan Kriteria & Indikator Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), Reduced Impact Logging (RIL)—pengurangan dampak kegiatan pemanenan hutan, kegiatan lacak balak, High Conservation Value Forest (HCVF)—Hutan bernilai konservasi tinggi. Pengajar pelatihan ini berasal dari Dit Bina Pengolahan & Pemasaran Hasil Hutan, Pusdiklat Kehutanan, IPB, TNC dan TFT.

Peserta dari Papua Barat Siswanto Manager PT Manokwari Mandiri Lestari – Papua Barat menyatakan bahwa “Dengan mengikuti pelatihan Manager PHPL ini,  saya dibekali  pengetahuan yang cukup memadai tentang tata-cara pengelolaan hutan lestari dan saya yakin bisa mempersiapkan IUPHHK tempat saya bekerja untuk mencapai kondisi tersebut dan memperoleh Sertifikat PHPL”.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program berskala regional The Responsible Asia Forestry and Trade (RAFT) yang didanai oleh USAID Regional Development Mission for Asia (RDMA).  Program RAFT melingkupi wilayah Asia dan Pasifik bertujuan untuk meningkatkan praktik-praktik pengelolaan hutan yang lebih baik dan perdagangan kayu yang bertanggung jawab, dengan demikian mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.  RAFT telah bekerja sama dengan lebih dari 35 perusahaan pengelolaan hutan untuk peningkatan pengelolaan hutan dengan area seluas 4 juta hektar di hutan tropis Indoensia.  Program RAFT mendukung Kementerian Kehutanan dalam mengembangkan standar verifikasi legalitas kayu di Indonesia dan kesepakatan kerjasama sukarela (Voluntary Partnership Agreement) dengan Uni Eropa.

Kegiatan pelatihan PHPL ini sekaligus mendukung kerangka besar Program Karbon Hutan Berau yang merupakan salah satu dari Demonstration Activities REDD+ di Indonesia.  Mengingat bahwa kurang lebih setengah dari hutan di Indonesia ditujukan untuk hutan produksi, maka pengelolaan hutan produksi lestari harus menjadi salah satu jalan keluar dalam menanggulangi laju kerusakan hutan dan emisi karbon di Indonesia terutama di Berau dimana masih terdapat hutan-hutan yang masih baik akan tetapi juga mempunyai ancaman yang tinggi.   Program Karbon Hutan Berau menargetkan penurunan emisi karbon sekurang-kurangnya 10 juta ton dalam kurun waktu lima tahun.

18 IUPHHK yang mengikuti pelatihan ini adalah: PT Inhutani I Unit Labanan (Berau), PT Inhutani I Unit Meraang (Berau), PT Inhutani I Unit Sambarata (Berau), PT Amindo Wana Persada (Berau),  PT Aditya Kirana Mandiri (Berau), PT Wanabhakti Persada Utama (Berau),  PT Sumalindo Lestari Jaya IV (Berau), PT Rizki Kacida Reana (Berau), PT Karya Lestari (Berau), PT Narkata Rimba (Kutim), PT Gunung Gajah Abadi (Kutim), PT Rodamas Timber Kalimantan (Kubar), PT Ratah Timber Company (Kubar), PT Kemakmuran Berkah Timber (Kubar), PT Belayan River Timber (Kubar), PT Adimitra Lestari (Nunukan), PT Dwima Jaya Utama (Kalteng), PT Manokwari Mandiri Lestari (Papua Barat).(*)

——-

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale