Workshop Pengenalan Skema ISPO sebagai Salah Satu Strategi dalam PKHB

Prospek perkebunan kelapa sawit Indonesia yang baik diharapkan memberikan manfaat yang menguntungkan baik dalam pembangunan ekonomi nasional, pembangunan wilayah dan solusi pemecahan masalah pengangguran, kemiskinan dan percepatan pembangunan daerah. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang prospektif dan peluang untuk pengembangannya masih cukup terbuka pada hampir semua sub sistem dalam usaha agribisnis perkelapasawitan. Terbukanya peluang tersebut selain karena dukungan potensi sumber daya yang dimiliki (lahan yang sesuai agroklimat, tenaga kerja, teknologi, ketersediaan varietas/jenis unggul, dan tenaga ahli), juga karena kemampuan daya saing minyak sawit Indonesia dari negara produsen lainnya, ataupun dengan komoditas substitusi lainnya.

Produksi Crude Palm Oil (CPO) nasional pada tahun 2010 mencapai 20,8 Juta Ton. Tahun 2011 produksi CPO akan diperkirakan meningkat 21 Juta Ton. Luasan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2009 di Indonesia kini sudah mencapai 7,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit (Deptan-2009) dimana Berau memiliki potensi lahan untuk perkebunan + 453.388,43 Ha yang terbagi untuk 34 perusahaan.  

Melihat prospek sawit yang potensial, dihadapkan dengan citra negatif kelapa sawit, yaitu pengembangan kelapa sawit yang tidak mengikuti kaidah-kaidah pelestarian lingkungan hidup. Peranan penting minyak sawit dalam perekonomian nasional, potensi pengembangannya ke depan, comparative advantage yang dimiliki, serta adanya permasalahan, maka harus dibuat suatu strategi kebijakan nasional yang operasional, yang mencakup semua sub sistem agrobisnis on farm (perkebunan), sub sistem agrobisnis hilir (industri minyak sawit dan turunannya).

ispo dinas perkebunan berau

Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) lahir dari dasar keinginan dan komitmen Indonesia untuk memiliki sistem sendiri tentang prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup bagi perkebunan sawit. ISPO juga telah ditetapkan melalui penerbitan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 Tahun 2011, dimana Kementerian Pertanian menargetkan pada tahun 2014 seluruh perkebunan kelapa sawit Indonesia wajib telah memiliki sertifikat ISPO.

Dalam konteks Program Karbon Hutan Berau, perkebunan kelapa sawit menjadi sangat penting karena dari pembukaan lahan dan deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit dan pertanian umumnya mengeluarkan gas rumah kaca sebesar 13.5 % (IPCC assessment report, 2007). Dalam skema reducing emission from degradation and deforestation plus (REDD+) hal ini menjadi penting dimana pengelolaan perkebunan kelapa sawit lestari dan berkelanjutan dapat menurunkan emisi karbon.

Sebagai suatu program kemitraan yang dibangun bersama para pihak, PKHB juga mendorong para pelaku usaha bidang perkebunan kelapa sawit agar dapat terlibat aktif. ISPO menjadi salah satu alat yang dapat dikembangkan sebagai langkah awal pembangunan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Berau. Sejalan dengan hal tersebut, POKJA menggagas suatu workshop bersama dengan para pihak yang bertujuan memperkenalkan sistem sertifikasi dalam perkebunan kelapa sawit, yaitu skema mandatory melalui Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan membangun komunikasi antara pemerintah, swasta dan para pihak dalam membangun perkebunan kelapa sawit lestari di kabupaten Berau.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 2 November 2011  di Ruang Pertemuan Kantor Dinas Perkebunan Kabupaten Berau ini dihadiri oleh hampir semua pelaku usaha perkebunan kelapa sawit di Berau, unsur pemerintah Kabupaten Berau, mahasiswa dan lembaga non pemerintah. Sedangkan sebagai narasumber utama dalam kegiatan ini antara lain Ir. Aris Pramudia, M.Si. dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian RI yang banyak membahas tentang dampak perubahan iklim dan tantangan pembangunan perkebunan kelapa sawit lestari. Narasumber lainnya Ibu Ir. Irmia Nur Andayani dari Ditjen Bimbingan Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan, Kementerian Pertanian RI yang banyak membahas tentang bagaimana ISPO dapat diterapkan dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit. POKJA REDD juga menjelaskan tentang strategi yang dikembangkan dalam Program Karbon Hutan Berau terutama strategi pada kawasan perkebunan kelapa sawit.

Dalam sambutannya, Ir. H. Wisnu Haris (Kepala Dinas Perkebunan Kab. Berau) menyambut baik inisiatif yang dikembangkan oleh POKJA REDD Berau untuk juga memberikan perhatian pada pembangunan perkebunan kelapa sawit di Berau dengan mendorong pelaku usaha kebun sawit agar dapat memenuhi dan mendapatkan sertifikasi ISPO. Beliau juga memaparkan potensi yang dimiliki oleh Berau dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit serta kebijakan yang dibuat oleh Pemkab Berau. Hal ini juga senada dengan sambutan yang disampaikan oleh Ir. Suparno Kasim (Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Berau), dimana Pemerintah Kabupaten Berau telah berkomitmen untuk mendorong pembangunan rendah emisi dan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang juga dilibatkan secara aktif. Intinya adalah bagaimana menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan kelestarian sumber daya alam.

Diharapkan melalui kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk memulai rangkaian kegiatan lain dalam bentuk diskusi yang sifatnya lebih teknis dan implementatif bagi semua pihak yang berkomitmen dalam pembangunan kelapa sawit yang lestari. (*iw).

——-

Tanggapan Anda

  1. Yohanis Lumbaa says:

    ISPO sangat membantu kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar perusahaan perkebunan kelapa sawit…..

  2. Aris Pramudia says:

    Terimakasih banyak yaa sdh diupload informasi ttg acara tersebut. Semoga manfaat. Tks.

  3. syahrul, S. Hut says:

    ISPO sangat penting dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit dan mempunyai ciri Indonesia dan tidak bertentangan dengan RSPO.

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale