Pelatihan Adaptasi Perubahan Iklim bagi Penyuluh Kehutanan di Kaltim & Kaltara

Bertempat di Grand Jatra Hotel Balikpapan Pelatihan Adaptasi perubahan iklim bagi Penyuluh Kehutanan di Kaltim & Kaltara sukses digelar. Kegiatan yang dilaksanakan dua hari ini dimulai pada hari Kamis-Jumat / 24-25 April 2014.

Kegiatan ini dilaksanakan di Grand Jatra Hotel Balikpapan pada tanggal 24-25 April 2014

Kegiatan ini dilaksanakan di Grand Jatra Hotel Balikpapan pada tanggal 24-25 April 2014

Pelatihan yang diinisiasi oleh Dinas Kehutanan Kalimantan Timur bekerjasama dengan Balai Diklat Kehutanan Samarinda dengan dukungan dari Kelompok Kerja REDD Kalimantan Timur ini menghadirkan Bapak Prof. Dr. Deddy Hadrianto, Ibu Rita Diana, M.Sc , Bapak Ir. Alfan Subekti, M.Sc, dan Bapak Tunggul Butar-Butar, M.Sc. sebagai Narasumber utama dan bertindak sebagai Fasilitator adalah Bapak Tunggul Butar-Butar, M.Sc.

Perubahan iklim adalah perubahan rata-rata cuaca bumi dalam jangka panjang yang terjadi sebagai akibat atas reaksi-reaksi terhadap berbagai perubahan (baik langsung maupun tidak langsung) pada unsur-unsur iklim dan unsur-unsur pendukung eksternal, seperti fenomena alam dan kegiatan manusia.

Iklim berubah, pertama karena pemanasan global yang merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Penyebab utama pemanasan global ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepaskan karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitroksida (N2O) dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.

Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat Celcius.

Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara perlahan-lahan seperti kenaikan muka air laut dan intrusi air laut ke delta-delta sungai yang merusak ekosistem pesisir dan menghancurkan mata pencaharian masyarakat.

Menyebabkan lebih banyak korban jiwa, penderitaan, kemiskinan, gangguan pelayanan sosial paling mendasar, porak porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup.

Dengan demikian, maka sudah sewajibnya Indonesia menjadikan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebagai agenda pembangunan nasionalnya. Mengintegrasikan unsur mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kepada pola kebijakan pembangunan harus dipandang sebagai strategi yang diperlukan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Untuk membantu mempercepat penyebaran informasi mengenai Adaptasi Perubahan Iklim bagi Penyuluh di Kaltim, diperlukan penyuluh-penyuluh kehutanan yang dapat menyampaikan berbagai substansi terkait dampak perubahan iklim kepada masyarakat dampingannya secara baik dan inovatif.

Pelatihan ini berangkat dari penyadaran akan pentingnya pengadaptasian Perubahan iklim tersebut mengingat akan Tujuan penyuluhan kehutanan sesuai dengan Pasal 56 Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia.

Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan wawasan yang berkenaan dengan teknik adaptasi perubahan iklim serta Membangun jejaring penyuluh kehutanan yang kuat sehingga dapat berperan sebagai fokal point isu perubahan iklim dan teknik adaptasi perubahan iklim kepada masyarakat.

Pelatihan ini dibuka oleh Perwakilan dari Dinas Kehutanan dalam kesempatan ini diwakili oleh bapak Anwar Saleh (Kepala Bidang Penatagunaan  Tata  Guna Hutan Dishut Kaltim), dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa “Kalimantan Timur berkontribusi dalam penurunan emisi, sebagaimana komitmen Presiden selain itu RAD GRK, sektor berbasis lahan memberikan kontribusi sebesar 96%. Keberhasilan penurunan emisi sangat tergantung dari bidang berbasis lahan menginat akan hal itu bahwa Emisi berbasis lahan dapat ditekan dengan moratorium, penertiban izin , prinsip pengelolaan yang berkelanjuta, dan rehabilitasi lahan” jelasnya.

Pelatihan ini merekomendasikan tindakan adaftif yang perlu dilakukan untuk mengatasi kerentanan perubahan iklim sebagai berikut:

1.    Pemulihan Lingkungan :Revegetasi , Pemulihan DAS dan Sub DAS
2.    Membuat Menara Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan
3.    Monitoring dan Evaluasi Penggunaan Kawasan Hutan (Ijin Pinjam Pakai)
4.    Melibatkan Masyarakat lokal disekitar hutan agar terlibat dalam menjaga kelestarian Hutan
5.    Penyuluhan Kepada Masyarakat Tentang Bencana Lingkungan.
6.    Revegetasi mangrove
7.    Bangunan Penahan Gelombang
8.    Membuat kolam terpal/keramba/Budidaya Ikan
9.    Peringatan dini dengan bekerja sama BMKG
10.  Pembuatan kalender musim
11.  Membuat Rumpon

Ch
*dikutip dari berbagai sumber

Sampaikan Tanggapan Anda Di Sini

Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale