Posted by medcomofficer on July 14th, 2010
Program Kehutanan ForClime – FC Modul yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Federal Jerman telah menunjuk Kabupaten Berau sebagai salah satu kabupaten yang masuk dalam program ini bersama dengan Kabupaten Malinau dan Kabupaten Kapuas Hulu. Secara khusus tim KfW yang terdiri dari Dr. Marcus Stewen (Jerman) dan Renizah Syah (Jakarta) yang ditemani oleh tim GFA (Dr. Sean Foley dan Rizal Sabirin) serta DED (Oliver Kogler) melakukan kunjungan ke Kabupaten Berau pada 27-31 Mei 2010. Dalam agenda kunjungan ini selain berdiskusi mendalam tentang program Kehutanan ForClime – FC Modul bersama para pihak di kabupaten Berau seperti POKJA REDD Berau, pihak swasta dan masyarakat juga melakukan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yang diusulkan sebagai lokasi Demontration Activities (DA) sebagaimana yang telah dikaji dalam studi kelayakan tim GFA.
Sebelum melakukan kunjungan ini, tim KfW juga melakukan pertemuan dengan Kementrian Kehutanan pada 26 Mei 2010 yang juga diikuti oleh Ketua POKJA REDD Berau dan dua orang anggota. Dalam pertemuan tersebut dijelaskan tentang kerjasama Pemerintah RI dan Jerman dan arahan bagi daerah yang menjadi lokasi proyek. Salah satu arahan Kemenhut adalah lokasi proyek ini lebih diarahkan pada kawasan hutan yang telah memiliki status yang kuat. Hal ini menjadi dasar bagi daerah dalam menindaklanjuti di tingkat lapangan.
Posted by medcomofficer on July 14th, 2010
Dalam kerjasama Pemerintah RI dengan Pemerintah Federal Jerman dalam Program Kehutanan ForClime – FC Module, salah satu kegiatan yang harus dilakukan adalah Studi Kelayakan terhadap kebupaten yang ditunjuk. Kabupaten Berau merupakan kabupaten ketiga yang ditunjuk oleh Kementerian Kehutanan RI selain Kabupaten Malinau dan Kapuas Hulu. Namun sebagai kabupaten terakhir yang ditunjuk, Berau belum dilakukan Studi Kelayakannya oleh konsultan yang ditunjuk. Untuk itu pada akhir Februari hingga awal Mei 2010, tim dari GFA Consulting melakukan kegiatan studi kelayakan di Kabupaten Berau.
Studi kelayakan ini dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi dan data pendukung, melakukan analisis dan juga kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yang cocok sebagai lokasi Demonstration Activities (DA). Data dan informasi tersebut dikumpulkan dari berbagai pihak seperti kantor dan dinas terkait di Pemerintah Kabupaten Berau, POKJA REDD Berau, perusahaan, masyarakat.
Posted by medcomofficer on July 14th, 2010
Sebagai tindak lanjut dari workshop dan pelatihan monitoring biomassa pada kawasan tropis yang diinisiasi oleh The Woods Hole Research Center (WHRC) beberapa waktu yang lalu dengan mengenalkan metode penggunaan citra GLAS-LIDAR, Sekretariat POKJA REDD melakukan kegiatan pengambilan dan pengumpulan data lapangan di Kabupaten Berau untuk melengkapi data stock biomassa tersimpan.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkaya metode yang dikembangkan dalam penyusunan dan pendugaan carbon stock di Kabupaten Berau dimana juga telah dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Carbon Stocks Assessment (RaCSA) yang dilakukan oleh ICRAF dan CSF – Unmul serta analisis spatial yang dilakukan oleh SEKALA dan WinRock.
Posted by medcomofficer on July 14th, 2010
Mendiskusikan strategi pelibatan masyarakat dalam REDD tentunya tidak akan habis dalam satu atau dua sesi diskusi saja. Studi tentang bagaimana pelibatan masyarakat dalam REDD khususnya Program Karbon Hutan Berau telah dilakukan oleh World Education beberapa waktu yang lalu. Studi ini juga diperkaya dengan beberapa kali diskusi baik di tingkat kampung (desa) maupun tingkat kabupaten bersama dengan POKJA REDD Kabupaten Berau. Untuk menjamin keberhasilan, strategi-strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam REDD memerlukan kerjasama rentang pemangku kepentingan. Sebagai acuan, sudah ada standar yang dikembangkan, misalnya standar the Climate, Community and Biodiversity Alliance (CCBA). Walaupun demikian masih menjadi pertanyaan apakah standar-standar itu dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan dan bagaimanakah standar-standar itu dapat diterapkan dalam kenyataan.
Mengingat banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang menantang yang perlu dijawab dalam usaha-usaha pengembangan REDD, berbagi pengalaman dan saling belajar antara semua pelaksana program akan bermanfaat untuk semua. Oleh karenanya sebagai lanjutan dilakukan pula diskusi pada tingkat nasional pada tanggal 8-9 Juni 2010 bertempat di Hotel Ambhara, Jakarta.
Posted by medcomofficer on July 13th, 2010
Bukan hanya habitat satwa langka dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat sekitar, hutan memiliki fungsi yang tak kalah besarnya. Apalagi kalau bukan memasok oksigen sekaligus menyerap karbon di sendi-sendi pohon yang terdapat di dalam hutan.”(Tribun Kaltim, 17 Mei 2010)
“Tak hanya memberi manfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat, hutan Lesan juga menjadi tempat berkembangnya berbagai tumbuhan, seperti kayu gaharu dan pohon ulin…” (Tribun Kaltim, 17 Mei 2010)
Surga Lesan di tengah kepungan Sawit dan HPH (Kompas, 21 Mei 2010)
“… Sehingga peserta mengenal lebih dekat kawasan yang sangat asri dan indah, berikut memiliki kesan yang baik dan mempunyai gambaran apa adanya.” (Kaltimpost, 11 Mei 2010)
Ya, itulah beberapa penggalan headline dari tulisan wartawan peserta pelatihan REDD dan Program Karbon Hutan yang dilaksanakan 2 hari dari tanggal 1 sampai 2 Mei 2010. Yang berbeda dengan pelatihan ini tentu lokasi yang digunakan. Peserta mengikuti kegiatan ini langsung dibawa ke lokasi kawasan hutan lindung Sungai Lesan.